Elle J. Hafiz: Pramoedya dan Ceritanya
Pramoedya dan Ceritanya
oleh Elle J. Hafiz
Lama sebelum saya terjumpa karyanya, nama Pramoedya Ananta Toer (6 Februari 1925 – 30 April 2006) ini sudah saya dengari. Tak ada apa pun petunjuk – kecuali sedikit catatan-catatan penulis tempatan – untuk saya jadikan panduan mencari buku-buku beliau di Malaysia ketika itu; cukup sukar bagi yang mencari bersendirian. Ketika itu juga, disebarang kesempatan yang ada, pasti saya akan menyelongkar rak-rak buku di mana-mana kedai untuk mencari hasil kerja Pram.
Kini, saya telah sempat membaca beberapa karya beliau – Cerita Dari Blora adalah buku pertamanya yang saya baca dan masih mencari lagi Keluarga Gerilya – ternyata pengalaman peribadi sosok Pram ini begitu berharga sehingga mampu menjadikan karya novelnya begitu besar.
Pram akan membawa saya ke satu alam lain – Indonesia dulu barangkali – dan membuatkan saya merasa sendiri segala pergolakkan jiwanya. Perih sakit, hiba, hilai tawa dan sebagainya, ia begitu akrab terasa ketika membaca novel-novel dan catatan beliau.
Ada seperkara yang saya baru tahu; bahwa karya-karya besar Pram yang ada, semuanya ditulis pada era di mana hidupnya sering keluar masuk penjara dan sebelumnya.
Sekadar makluman, Pram ditahan dibelakang tirai gerigi besi selama 18 tahun ketika hayatnya. Tiga tahun di bawah kuasa kolonial, satu tahun ketika pemerintahan Orde Lama Sukarno dan 14 tahun lagi ketika pemerintahan Orde Baru Suharto.
Menurut Max Lane, seorang Australia yang juga penterjemah karya Pram selama 36 tahun ketika berkunjung ke Kuala Lumpur baru-baru ini, Pram lewat dibebaskan dari penjara kali terakhir pada 1979 – sehinggalah beliau meninggal pada 2006 – baki hidup yang 27 tahun itu langsung tidak dicatatkan untuk menghasilkan karya yang menandingi kesungguhan dan kepayahan beliau ketika era sebelumnya.
Sentuh Max lagi, barangkali Pram berasa terlalu janggal dan kaget dengan situasi Indonesia yang lahir setelah dia bebas – mungkin tidak seperti Indonesia yang sering tergambar oleh Pram suatu masa dulu. Walaupun ada karyanya yang diterbitkan dalam tempoh Pram bebas dan sebelum meninggal itu, saya kira novel-novel itu juga adalah rakaman kisah peribadi ketika zaman-zaman sebelumnya juga.
Satu lagi perkara yang menarik yang dijelaskan oleh Max, Pram tidak pernah mengakui yang dia adalah pendukung idea-idea dan mengasihani perjuangan komunis – atas sebab ini jugalah dijadikan alasan oleh pemerintah untuk menghumbannya ke penjara – tetapi jelas Max dan diakui Pram sendiri, dia adalah seorang nasionalis kiri.
Karya Pram boleh menghambat pembaca walau dari corong waktu yang lain adalah disebabkan satu hal; Pram sendiri melalui apa saja yang tergambar di dalam karyanya – terhimpit, diseksa hingga pekak ketika dalam tahanan dan sebagainya.
Pram dalam maksud saya adalah satu entiti ‚Äì atau kandungan masyarakatnya – yang real. Tidak berpura-pura menulis kembali semangat pengalaman yang pernah dilaluinya sendiri. Tidak hairan, walaupun banyak karyanya diharamkan ‚Äì dulu hingga sekarang ‚Äì namun ia masih berlegar juga dikalangan orang biasa, termasuk ada juga yang terlepas dan dijual ke Malaysia secara sembunyi-sembunyi oleh penerbit dari tanah seberang itu.
Selepas Pram melalui semuanya, kini ada baik juga kita mula merenung kembali segala kebiadapan dan keangkuhan bangsa manapun yang kerap dijadikan watak di dalam novelnya – baik bangsa penjajah mahupun bangsanya sendiri.
Pramoedya Ananta Toer karyanya mengasyikkan, menelanjangkan segala sisi kejengkelan yang semakin bernanah dalam tradisi perkembangan Indonesia. Kita, di satu sudut yang lain, mampu juga untuk mendampingi Pram dan memahami keresahan beliau selama hayatnya dan lantas merefleksi wajah bangsa kita hari ini.
End.
Dalami Pram: disini
Layari juga: jelir.blogspot.com | rawkcarpark.wordpress.com


…mengingatkan kembali sosok Pram dengan Dji Sam Soe-nya yang hampir tidak pernah lepas dari tangannya yang sudah keriput karena tua. Ada satu masa di Kemang, Jakarta, Pram harus hadir menjadi salah satu pembicara dalam seminar/diskusi di situ. Organiser acara mengatakan agar dengan hormat ‘Pak Pram’ –begitu orang menyebutnya, mematikan rokok karena ruangan ini ber-pendingin ruangan dan dilarang merokok. Namun dengan santai dan relax Pram membalas, ‘…saya lebih rela meninggalkan ruangan ini daripada melepaskan rokok (Djisamsoe) ini. Rokok inilah yang telah menemani saya menghasilkan tulisan-tulisan itu!’.
Sesiapa yang nak baca buku2 Pram bolehlah beli di Pekan Buku, Universiti Malaya. Saya pernah jumpa siri buku Pulau Buru seperti Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, Jejak Langkah dan lain2 di Pekan Buku, UM. Kebanyakkannya buku original dari Indonesia dan tentunya berbahasa Indonesia. Saya secara peribadi lebih suka membaca karya Pram dalam Bahasa Indonesia berbanding terjemahan Bahasa Inggeris.
Saya turut hadir di forum Pram tahun lepas yang disertai Max Lane dan lain2. USM juga sering mengadakan forum tentang Pram setiap tahun, kalau tak silap Feb. Dah 2 tahun berturut forum tentang pemikiran Pram diadakan di USM. Sesiapa yang minat boleh pergi.
To Joe, I’m Shahrizal. Mang (Khuchalana) and Hakim’s friend. If you still remember, I was a lawyer who join critical mass last year and came to your shop a few times. I’m now in Melbourne reading for my PhD. Pls send my regards to Pudin, Rizie, Mang and Hakim. Pls let me know if anybody wants to come to Melbourne. Life is better in Melbourne…
Keluarga Gerilya, di library UKM dan UTM ada. cerita yang sangat mengesankan.